Another Way
I opened my eyes and realized that I found my self in a strange room. A room I never knew before. All were white. The room was so lonely. “Good morning. How do you feel?” asked a nurse. I was trying to open my blurred eyes and didn’t say a word. My lips were bruised and numb. The whole of my body was crushed to bits.
A memory came suddenly. I remembered that I had escape from five policemen who wanted to arrest me. I ran and ran through a narrow long street but suddenly there was a crush sound. BRUCKK!!! And finally I found my body lying here, in a hospital.
Actually, I didn’t do any crime. I just came to a bar with a friend of mine at that night. We never met each other for five years. We had some drinks and took a long conversation, talked about everything. Then I went to a gent’s room. When I came to the place where we chatted, he was gone. I still didn’t understand him. Suddenly, six to eight policemen came into the bar by carrying the gun on their hands. They shouted:” it’s an inspection of drugs! Just stay there and don’t move!” all of the police were checking all of the people in the bar, included me. I didn’t feel anything because I wasn’t do something wrong, even there was a little of scary.
“Hey young man, can you tell me what it is.” A policeman showed me a pack of drugs.
“I have no idea Sir. I just drank whiskey with my friend!” I shouted.
“Sorry but you should explain it in our office.”
He didn’t want to listen to my explanation about the drugs. I was so confused. Where was Johnny?! Oh my God!!! What I’ve done?! I just came to bar and doing nothing and now the police found drugs under my seat. Johnny, I never imagined you did it to me. I never imagined he was a drug dealer.
I just couldn’t believe that I sat in this green room. I was at the center of the people on black uniform. I didn’t know what I had to do in this trial court. I was full of a chaotic. I was non guilty! My mind was spinning around and thought a ridiculous idea; I wanted to escape! While everybody was busy, I stood up fast and ran through the mob of people. I just ran and ran. I won’t look back. I heard a loud sound of alarm came after me. I ran through a narrow street passing the rubbish bin and crowded people who blocked me away. I heard the police shouted ask me to stop and surrender. But I still ran and ran again. It felt like I couldn’t stop my feet till I saw a big truck in front of my eyes. Then I found my self here. Fortunately, the death still didn’t pick me.
CINTA JOGJA-PARANGTRITIS
I opened my eyes and realized that I found my self in a strange room. A room I never knew before. All were white. The room was so lonely. “Good morning. How do you feel?” asked a nurse. I was trying to open my blurred eyes and didn’t say a word. My lips were bruised and numb. The whole of my body was crushed to bits.
A memory came suddenly. I remembered that I had escape from five policemen who wanted to arrest me. I ran and ran through a narrow long street but suddenly there was a crush sound. BRUCKK!!! And finally I found my body lying here, in a hospital.
Actually, I didn’t do any crime. I just came to a bar with a friend of mine at that night. We never met each other for five years. We had some drinks and took a long conversation, talked about everything. Then I went to a gent’s room. When I came to the place where we chatted, he was gone. I still didn’t understand him. Suddenly, six to eight policemen came into the bar by carrying the gun on their hands. They shouted:” it’s an inspection of drugs! Just stay there and don’t move!” all of the police were checking all of the people in the bar, included me. I didn’t feel anything because I wasn’t do something wrong, even there was a little of scary.
“Hey young man, can you tell me what it is.” A policeman showed me a pack of drugs.
“I have no idea Sir. I just drank whiskey with my friend!” I shouted.
“Sorry but you should explain it in our office.”
He didn’t want to listen to my explanation about the drugs. I was so confused. Where was Johnny?! Oh my God!!! What I’ve done?! I just came to bar and doing nothing and now the police found drugs under my seat. Johnny, I never imagined you did it to me. I never imagined he was a drug dealer.
I just couldn’t believe that I sat in this green room. I was at the center of the people on black uniform. I didn’t know what I had to do in this trial court. I was full of a chaotic. I was non guilty! My mind was spinning around and thought a ridiculous idea; I wanted to escape! While everybody was busy, I stood up fast and ran through the mob of people. I just ran and ran. I won’t look back. I heard a loud sound of alarm came after me. I ran through a narrow street passing the rubbish bin and crowded people who blocked me away. I heard the police shouted ask me to stop and surrender. But I still ran and ran again. It felt like I couldn’t stop my feet till I saw a big truck in front of my eyes. Then I found my self here. Fortunately, the death still didn’t pick me.
CINTA JOGJA-PARANGTRITIS
Keringatnya meleleh membanjiri tubuhdan parasnya yang tampan. Siang itu memang sangat panas. Matahari serasa ingin marah kepada seisi bumi. Kondektur muda itu bernama Wahyu. Dia terus meneriakkan kata-kata yang sama setiap harinya. Mengajak penumpang agar naik ke dalam bis tempat ia setiap harinya menggantungkan hidup.
Seisi rumah menjadi sangat panik ketika seorang laki-laki setengah baya sedang berjuang mempertahankan nafasnya. Dia adalah Pak Sugiyanto, bapak Wahyu. Pak Sugiyanto telah lama menderita penyakit paru-paru basah. Tapi hari ini dia sudah tidak dapat menahan lagi apa yang telah dideritanya selama dua tahun. Akhirnya tubuh kurus Pak Sugiyanto diam! Tidak bergerak sama sekali! Saat itu harga air mata tidak berarti lagi. Rumah kecil itu terasa memecahkan gendang telinga. Auman pilu serentak keluar dari seluruh anggota keluarga. Sejak saat itu kehidupan keluarga Wahyu mendadak berubah. Wahyu sebagai anak tertua harus membantu ibunya menghidupi ketiga adiknya yang masih kecil-kecil.
Entah sudah berapa kali dia bolak-balik melewati jalan Jogja-Parangtritis. Tidak terhitung! Walaupun rambutnya di cat warna dan kelihatan sedikit bingal, itu hanya akibat lingkungan sekitar kehidupan terminal. Diluar itu, Wahyu sangat bertanggung jawab kepada keluarga dan terkenal dermawan. Dia sering berbagi koin kepada anak kecil peminta-minta yang sering mangkal di lampu merah. Bahkan banyak mata yang tidak bisa memungkiri bahwa Wahyu memang seorang pemuda 18 tahun yang tampan dan menarik. Jika seandainya Wahyu adalah seorang mahasiswa yang pergi kuliah dengan mengendarai motor modifikasi, pastilah dia sudah jadi bahan rebutan para gadis. Kadang Wahyu pun berfikir demikian. Mengapa harus aku yang ada di dalam bis ini. Mengapa bukan mereka saja , orang-orang kaya yang tak pernah ingat pada sesamanya. Tapi cepat-cepat pikiran itu dihapus dalam benaknya. Dia selalu berusaha berbesar hati. Apa boleh buat, memang kenyataannya begitu, pikirnya.
Teriakkan penumpang membuyarkan lamunannya.
“Ke terminal ya, Mas!” kata seorang gadis muda.
Mata Wahyu sempat terpana ketika seorang gadis memberhentikan bisnya. Dia memandang sampai gadis itu masuk dan duduk ke dalam bis. Gadis itu kelihatannya seorang mahasiswa. Dia terlihat sangat manis dan anggun. Perawakannya tinggi, langsing dengan paras yang hitam manis. Menunjukkan ciri khas seorang gadis Jawa. Tampaknya Wahyu telah jantuh cinta kepada gadis itu. Tak terasa bis tersebut sudah sampai di terminal Giwangan. Lalu gadis itu turun dan berjalan, menghilang entah kemana. Mata Wahyu sudah tidak sempat lagi mengikuti kemana gadis itu menghilang. Bis Jogja-Parangtritis itu sudah cepat-cepat berlari mengejar penumpang selanjutnya.
Rupanya sosok gadis itu benar-benar melekat dalam benaknya. Dia coba menutup mata tapi senyum gadis itu membuka kembali matanya. Dalam hati Wahyu berencana, dia harus bertemu gadis itu kembali jika Tuhan mengizinkan. Malam semakin larut diiringi dengan bunyi jangkrik yang bernyanyi sebagai lagu pengantar tidur. Angan-angan Wahyu pun sudah melayang entah kemana.
Bunyi kokok ayam jantan membuat tubuh Wahyu meloncat kaget. Dilihatnya matahari sudah mulai membuka matanya. Dia buru-buru untuk pergi bekerja karena tidak ingin melewatkan momen yang berharga seperti kemarin.
“Tumben pagi-pagi sekali, Yu?” celetuk Mas sopir dengan bahasa jawanya yang medhok.
“Lagi semangat aja Mas,” jawab Wahyu sambil mesam-mesem. “Emang kenapa Mas?”
“Aneh wae, nggak seperti biasane,”
Bis pun melaju dengan suara yang agak menderit-derit. Hari sudah mulai menunjukkan pukul 14.00 WIB tapi Wahyu belum juga melihat gadis manis itu. Tiba-tiba Mas sopir menghentikan bisnya didepan pertigaan jalan. Betapa terkejutnya Wahyu, ternyata yang akan naik adalah si gadis manis itu. Gadis itu masuk kedalam bis dengan mengembangkan senyum ramahnya.
“Kemana, Mbak?” tnya Wahyu mencoba beramah-tamah.
“Ke terminal, Mas,” jawab gadis itu sambil tersenyum.
Selama beberapa hari, mereka selalu bertemu. Akhirnya keinginan Wahyu untuk mendekati gadis itu meledak sudah. Dia membulatkan tekadnya untuk mencoba berkenalan dengannya. Dengan jantung yang berdegup kencang, dia berjalan mendekati gadis yang sedang duduk di bangku depan itu.
“Mbak, ketemu lagi ya? Mau ke terminal lagi?”
“iya Mas.”
“Kok sering ke Parangtritis, Mbak?”
“Saya dari rumah Simbah. Mbah saya rumahnya di dekat TPR,” jawabnya santun. “Masnya ikut bis ini terus ya.”
“Kebetulan iya, Mbak.”
Perbincangan pun terus berlangsung. Akhirnya mereka pun berkenalan. Diketahui gadis itu bernama Retno. Dia seorang mahasiswi sebuah Perguruan Tinggi Swasta di Jogja bagian tengah. Retno sering pulang ke Parangtritis karena Mbahnya meriang. Walaupun terasa letih, tapi Retno rela demi Mbah tercinta.
Dari hari kehari pertemanan itu berjalan sangat mulus. Retno tidak membandingkan derajad sosial antara mereka. Mereka terlihat sangat dekat seperti sepasang muda mudi yang sedang terkena panah dewa asmara. Memang sudah menjadi sifat Retno bersikap ramah kepada semua orang. Walaupun menganggap perlakuan Retno kepadanya sudah memasuki tahap yang tidak di ragukan lagi. Tapi Wahyu masih tahu diri, dia masih menyimpan rapat-rapat perasaannya itu. Sampai suatu hari Retno memberikan sebuah kado kecil kepada Wahyu. Hari itu Wahyu adalah hari ulang tahun Wahyu yang ke-19. wahyu berpikir bahwa memang inilah saat yang tepat, dia harus memberitahuakn perasaannya kepada Retno.
Hari sabtu adalah hari yang sangat panjang bagi Wahyu. Dia telah menyusun keberanian dan keyakinannya. Dia sedang menunggu waktu dimana Retno memberhentikan bis seperti biasa. Dari kejauhan, mata Wahyu menangkap sosok Retno yang masih sebesar jari telunjuk. Badannya pun terasa panas dingin. Hatinya berdegup ingin meloncat keluar! Bis itu pun berhenti untuk menunggu penumpang persis di depan Retno.
“Met sore. Mau ke terminal?” Tanya Wahyu keluar dari dalam bis.
“Eh, Wahyu. Tapi aku nggak naik bis. Aku lagi nunggu jemputan,” jwabnya di diikuti senyum.
Hati Wahyu menciut, kering dan layu. Tapi dia buru-buru bertanya ,”Wah, kalo boleh tau dijemput siapa sih?”
Tiba-tiba suara motor mendekat. Seorang pemuda tampan dengan motor besarnya menghampiri Retno.
“Nah, ini dia jemputannya udah dating,” Retno bersiap-siap untuk naik motor. “Eh iya, sampai lupa, ini Mas Rinto.”
“Saya Wahyu teman Retno,” Wahyu tetap berusaha tersenyum walau hatinya bagai diterjang badai tsunami.
“Sekarang sudah kenal kan? Aku pergi dulu ya….Maaf nggak naik bis, soalnya buru-buru.”
Sepasang kekasih itu berlalu, pergi menjauh. Mata Wahyu tetap terpaku kepada kepergian mereka berdua. Hatinya hancur dalam waktu sekejap saja. Pikiran ‘seandainya aku yang berada disana’ muncul lagi dalam benaknya, ‘seandainya aku seorang mahasiswa’ mungkin kisah cintanya tidak setragis ini.
Teeet…teeet….!!! Bis biru itu memanggil seakan mengajak hatinya yang kecewa untuk pergi.
“Terminal Giwangan…! Terminal Giwangan…!” Wahyu kembali meneriakkan kata-kata yang sudah bersamanya selama dua tahun. Di tengah siang yang terik dan berdebu itu, dia sejenak melupakan kekecewaan hatinya.
Bis biru kembali berhenti dipemberhentian ke empat. Di simpang tiga yang tidak terlalu ramai itu, Wahyu kembali turun untuk menarik penumpang.
“Mas, bisnya mau ke terminal ya?” Tanya seorang gadis dengan terburu-buru.
Berbeda dengan Retno, gadis itu kelihatan sedikit lebih lincah dan urakan. Tapi dia memang kelihatan lebih manis dengan tingkahnya yang periang. Gadis itu sedikit lebih tomboy dengan tas punggung dan celana cargo hitam. Hati Wahyu kembali membuka senyum. Matanya mulai mengikuti gerak-gerik gadis itu. Rupanya kekecewaannya terhadap Retno pudar seketika oleh kehadiran gadis tomboy itu. Hati Wahyu mulai membuka petualangan baru, petualangan cinta sepanjang Jogja-Parangtritis.
TAMAT

Tidak ada komentar:
Posting Komentar